Volume 2,5 Juta Meter Kubik Air Disiapkan Lewat Retensi Lahan 17 Hektare Embung Lawe-Lawe

banner 468x60

Kacamatanegeri.com, PENAJAM – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) terus mempercepat langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan akibat cuaca ekstrem, termasuk fenomena El Nino. Salah satu langkah strategis yang kini digenjot adalah optimalisasi pembangunan dan pengerukan zona tangkapan air di kawasan Embung Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Sekretaris DPUPR Kabupaten PPU, Muhammad Ali Musthofa, mengatakan proyek penyiapan cadangan air baku ini memiliki skala yang cukup besar untuk mengamankan suplai air bersih bagi masyarakat ke depannya.

banner 336x280

“Dengan estimasi kubikasi kita 2,5 juta meter kubik dengan catch zone area (zona tangkapan air, Red) yaitu 17 hektar dan kedalaman kurang lebih rata-rata 4 meter lebih ya. Kita upayakan kita optimalkan sembari juga melihat situasi cuaca,” ucap Ali, saat meninjau retensi Embung Lawe-Lawe, Senin (2/11/2026).

Ali mengungkapkan, pihaknya saat ini mengerahkan dua unit alat berat berupa ekskavator untuk bekerja secara maksimal di lapangan. Ia juga berharap kondisi cuaca dalam beberapa pekan ke depan dapat mendukung kelancaran operasional alat berat di lokasi proyek.

“Kita berdoa saja ke depan ini, tiga minggu ke depan, cuaca cukup baik jadi alat-alat kita bisa optimal untuk bekerja. Sementara ini dua unit alat ekskavator melakukan pengerukan ekskavator. Semoga dapat mengoptimalkan 2,5 bulan ke depan,” tambahnya.

Pengerjaan proyek di kawasan tersebut bukan tanpa hambatan. Ali menyebutkan, kondisi geografis dan struktur tanah di lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja dan operator alat berat karena didominasi oleh lahan gambut. Dirinya bilang, teknik pengerukan tidak dapat dilakukan secara sembarangan demi menghindari risiko alat berat terperosok.

Baca Juga :  50 UMKM Dijajal DisKUKMPerindag Untuk Bangun Embrio Ekosistem Digital

“Medannya juga cukup berat, karena ini gambut. Jadi, kita perlu treatment, berkesinambungan, jadi enggak bisa kita langsung tarik dorong, karena bisa tenggelam sewaktu-waktu. Jadi, kita butuh treatment tersendiri untuk penanganan untuk areal gambut ini, ya,” jelas Ali.

Lebih lanjut, Ali memaparkan bahwa lahan seluas 17 hektar tersebut merupakan area pinjam pakai dari Pertamina. Keberadaan zona tangkapan air raksasa ini nantinya difungsikan sebagai pengendali aliran air agar tidak langsung terbuang sia-sia melalui pelimpah Sungai Lawe-Lawe.

Dengan volume tampungan mencapai 2,5 juta meter kubik, air limpasan akan dikontrol sedemikian rupa sebelum dialirkan menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) Lawe-Lawe.

“Sehingga nanti ke depan, air yang ada di catch zone area ini tidak mengalir di spillway Sungai Lawe-Lawe, bablas begitu ya, jadi masih dikendalikan,” sebutnya.

Terkait infrastruktur penyaluran air dari kolam tampungan menuju instalasi pengolahan, DPUPR PPU memastikan tidak memerlukan pembangunan jaringan pipa yang rumit. Sistem pengaliran akan memanfaatkan kontur gravitasi dan kondisi alam yang sudah ada.

“Untuk jaringan koneksinya, tidak ada pipanisasi, kita mengalirkan saja,” tutupnya. (Adv/d1)

banner 336x280