Uang Saku Affan Ditabung Ya…

Oleh: Subur Priono, S.I.Kom (Humas Setkab PPU)

Artikel, Daerah29 Dilihat
banner 468x60

KALIMAT polos itu keluar dari mulut Muhammad Affan, siswa SDN 008 Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) ini dengan wajah sumringah.

Bagi orang dewasa, mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seorang anak sekolah dasar, pernyataan itu menyimpan makna besar, kebutuhan makannya terpenuhi, dan uang sakunya kini bisa ia simpan.

banner 336x280

Di situlah letak kekuatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang langsung dirasakan manfaatnya oleh siswa-siswi di sekolah.

Program yang diinisiasi pemerintah pusat ini tidak sekadar menghadirkan makanan di meja makan sekolah. MBG pelan-pelan mengubah kebiasaan, mengurangi beban orang tua, dan tanpa disadari menanamkan literasi keuangan sederhana pada anak-anak.

Affan tidak lagi memikirkan bagaimana harus membeli makan siang di sekolah. Ia tidak lagi bergantung pada uang jajan untuk sekadar mengisi perut. Ia mulai mengenal arti menabung.

Dampaknya ternyata jauh lebih luas dari sekadar pemenuhan gizi.

Selama ini, masih ada anak-anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Ada yang datang dengan perut kosong, menahan lapar hingga jam istirahat.

Kondisi ini tentu berpengaruh pada konsentrasi belajar, semangat mengikuti pelajaran, bahkan kesehatan jangka panjang mereka. MBG hadir menjawab persoalan yang selama ini mungkin dianggap sepele, namun nyata terjadi di lapangan.

Bupati PPU, Mudyat Noor, dengan tegas menyebut bahwa MBG adalah program prioritas nasional yang harus dikawal serius di daerah. Bukan sekadar menjalankan instruksi, tetapi memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan siswa. Dan testimoni Affan menjadi bukti paling jujur bahwa program ini bekerja.

Baca Juga :  Pesan Bupati PPU kepada CPNS dan PPPK yang Dilantik, Jaga Integritas Sebagai ASN

Yang menarik, MBG bukan hanya tentang gizi dan kesehatan. Program ini juga menyentuh sisi sosial dan psikologis anak-anak. Mereka tidak lagi merasa berbeda dengan teman-temannya karena tidak membawa bekal atau tidak memiliki uang jajan. Semua mendapatkan porsi yang sama. Ada rasa kebersamaan, ada kesetaraan, dan ada kenyamanan belajar tanpa rasa minder.

Dari sisi orang tua, program ini tentu sangat membantu. Pengeluaran harian untuk uang jajan anak bisa ditekan. Dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, hal kecil seperti ini memberi ruang napas bagi keluarga.

Di Kabupaten PPU sendiri, program MBG baru menjangkau sekitar 50 persen sekolah. Artinya, masih ada banyak anak yang menunggu merasakan manfaat serupa seperti Affan. Komitmen Pemerintah Kabupaten PPU untuk memperluas cakupan hingga seluruh sekolah pada tahun 2026 menjadi harapan besar yang patut dikawal bersama.

Sebab MBG sejatinya bukan hanya program makan gratis. Ini adalah investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang gizinya tercukupi akan lebih sehat, lebih fokus belajar, dan memiliki peluang tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berdaya saing.

Kita sering berbicara tentang pendidikan berkualitas, tentang generasi emas, tentang masa depan daerah. Namun kadang lupa bahwa semua itu berawal dari hal paling mendasar, perut yang kenyang dan tubuh yang sehat.

Dari Waru, dari ucapan sederhana seorang anak bernama Affan, kita diingatkan bahwa kebijakan besar bisa terasa sangat dekat ketika menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.

Baca Juga :  KUKM Perindag PPU Prioritaskan Event Skala Nasional

Dan mungkin, di balik piring makan bergizi itu, sedang tumbuh kebiasaan baru: anak-anak belajar menabung, belajar menghargai, dan belajar bahwa sekolah adalah tempat yang tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga perhatian.

Uang saku Affan kini ditabung.

Dan masa depan generasi PPU sedang kita isi dengan gizi yang lebih baik. (*)

banner 336x280