Topside Proyek Manpatu PT Pertamina Hulu Mahakam Resmi Berlabuh ke Lepas Pantai Balikpapan

Berita, Nusantara1547 Dilihat
banner 468x60

Kacamatanegeri.com, Tanjung Pinang – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melaksanakan seremoni Load Out dan Sail Away Topside yang menandai kemajuan penting Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu yang ditargetkan onstream pada Kuartal I 2027 dengan rencana pengeboran perdana pada Kuartal IV 2026.

Seremoni dilakukan di fasilitas fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, 17 April 2026.

banner 336x280

Tahap  Load Out dan Sail Away Topside ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya, yaitu Sail Away Jacket, yang telah dilaksanakan, 8 April 2026 lalu. Load Out dan Sail Away Topside termasuk tahapan yang berisiko tinggi (high-risk) dan ketepatan tingkat tinggi (high-precision operation) yang menuntut kesiapan penuh dari sisi teknis, koordinasi, maupun keselamatan.

Keberhasilan PHM mencapai tahap ini mencerminkan kesiapan proyek untuk memasuki fase instalasi di wilayah operasi, dengan kapasitas desain mencapai 80 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), guna mendukung peningkatan produksi gas dan kondensat PHM.

Topside yang memiliki berat sekitar 1.000 ton tersebut diangkut menggunakan cargo barge dan menempuh jarak sekitar 1930 km menuju lokasi proyek di lepas pantai Balikpapan. Perjalanan kapal diperkirakan sekitar 15 hari. Topside merupakan bagian atas dari sebuah platform atau anjungan sumur migas lepas pantai. Bagian ini berfungsi sebagai pusat fasilitas pemrosesan, pengeboran, sistem kontrol, utilitas, serta area akomodasi kerja bagi para pekerja.

Acara seremoni dihadiri berbagai pemangku kepentingan utama, di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji, Subkoordinator Penggunaan Barang Operasi Migas Ditjen Migas Gesit Prawatiningsih, Pjs Kepala Divisi Manajemen Proyek SKK Migas Elfan Yusridha, SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi Damar Setiawan, dan General Manager PHM Setyo Sapto Edi.

Sementara itu, hadir dari pemerintah daerah di Tanjung Pinang, perwakilan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan, dan perwakilan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea & Cukai Tipe Madya Pabean B Tanjung Pinang. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan sinergi dan kolaborasi yang baik untuk mendukung keberlanjutan operasi hulu migas.

Baca Juga :  Penguatan Demokrasi, Sigit Wibowo Ajak Tanamkan Nilai Budaya Bangsa dalam Tata Kelola Pemerintah

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji dalam sambutannya menyampaikan, Proyek Manpatu yang dijalankan oleh PHM ini merupakan proyek yang signifikan berkontribusi terhadap upaya menjaga lifting migas di wilayah Kaltim.

Selain itu, ia juga mengapresiasi pelibatan lebih dari 360 pekerja terampil asal Kaltim yang didatangkan dan bekerja untuk Proyek Manpatu di fasilitas fabrikasi di Tanjung Pinang tersebut.

“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kaltim, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur melalui kontraktor PT Meindo Elang Indah yang mengerjakan Proyek Manpatu,” tutur Seno.

General Manager PHM Setyo Sapto Edi menyampaikan keyakinannya bahwa kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perusahaan, mitra kerja, masyarakat, serta seluruh kontraktor Engineering, Procurement, Supply Construction and Commissioning (EPSCC) menjadi kunci utama keberhasilan proyek ini.

“Penyelesaian tahap fabrikasi Topside ini merupakan wujud kerja keras dan hasil kolaborasi yang solid seluruh tim yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Setyo juga menegaskan kembali komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan investasi, penambahan cadangan migas maupun optimalisasi produksi dari lapangan-lapangan mature.

“Proyek Pengembangan Manpatu adalah bagian dari kontribusi nyata kita terhadap ketahanan energi nasional. Di tengah tantangan lapangan-lapangan produksi yang semakin mature, kita dituntut untuk terus berinovasi, bergerak cepat, dan tetap menjaga keunggulan operasional,” tegasnya.

Proyek Pengembangan Manpatu tercatat sebagai proyek fast track. Proyek ini berawal dari penemuan (discovery) sumur Eksplorasi Manpatu-1X pada tahun 2022. Selanjutnya, tahapan Front End Engineering Design (FEED) dilaksanakan selama periode 2023 hingga 2024. Sebelum memasuki fase konstruksi, kemajuan proyek ini ditandai dengan seremoni First Cut of Steel pada 16 Mei 2025.

Baca Juga :  Bupati PPU Temui Menteri Pertanian, Usulkan Sarana Pendukung Sektor Pertanian

Lingkup pekerjaan proyek mencakup fabrikasi dan instalasi satu anjungan baru, yaitu jacket beserta piles dengan total berat sekitar 1.380 ton, Topside dengan berat sekitar 1.000 Ton, serta modifikasi pada satu anjungan yang sudah ada (existing).

Selain itu, proyek ini meliputi pemasangan pipa penyalur bawah laut berdiameter 14 inch sepanjang kurang lebih 2,5 km, serta pelaksanaan pekerjaan di bawah permukaan laut (subsea) dengan tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi. Secara keseluruhan, proyek ini akan mencakup pengeboran 11 sumur pengembangan.

Sementara itu, pada kesempatan terpisah Direktur Utama PHI Sunaryanto menekankan pentingnya Proyek Manpatu ini dalam mewujudkan komitmen PHI sebagai induk usaha dan anak-anak perusahaannya, seperti PHM, untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eskplorasi dan eksploitasi.

“Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan khususnya dari wilayah Kaltim. Keberhasilan di proyek ini membuktikan bahwa kita mampu menghadapi tantangan industri melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen yang kuat,” ungkap Sunaryanto.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan proyek.

“Dengan capaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa Kehilangan Jam Kerja Karena Kecelakaan atau Lost Time Incident (LTI) hingga Maret 2026, PHI melalui anak perusahaannya PHM berkomitmen untuk menjaga standar Health, Safety, Security, and Environment atau HSSE secara konsisten hingga seluruh rangkaian proyek selesai,” tegasnya.

Menurutnya, pencapaian kinerja unggul di aspek kesehatan dan keselamatan kerja mencerminkan kesiapan perusahaan untuk dapat mengeksekusi proyek secara selamat, cepat, dan terintegrasi.

“Energi yang kita hasilkan hari ini adalah fondasi bagi masa depan bangsa. Melalui setiap langkah yang kita ambil, kita sedang menyalakan harapan Indonesia,” tutupnya. (*)

banner 336x280