Timnas Day yang Cemas

banner 468x60

Saya mengurut dada lebih dalam lagi. Kali ini agak bergeser ke kiri. Pas di area jantung.

Hasil pertandingan Indonesia Vs Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin, 28 September 2026 : draw. Kosong-kosong.

banner 336x280

Di atas kertas, kita tidak kalah. Tapi di atas lapangan? Rasanya seperti kalah telak.

Menonton timnas semalam itu bukan lagi hiburan. Melainkan sebuah latihan spiritual. Untuk menguji tingkat kesabaran umat manusia. Levelnya sudah makrifat.

Penderitaan kita makin paripurna di menit ke-37. Thom Haye, profesor lini tengah kita, mendadak berubah profesi menjadi pesulap. Dia berhasil menghilangkan dirinya dari lapangan. Karena terkena kartu merah.

Awalnya wasit cuma kasih kartu kuning. Tapi setelah menengok VAR, wasit seperti mendapat hidayah baru.

Kartu kuningnya dianulir. Diganti kartu merah menyala. Lengkap sudah penderitaan.

Bermain dengan sepuluh orang melawan Malaysia, di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu rasanya seperti dikepung debt collector di gang buntu. Sempit, pengap, dan bikin pasrah.

Sepanjang babak kedua, permainan Indonesia sama sekali tidak berkembang. Alurnya mirip sinetron kejar tayang: berantakan dan tidak jelas ujungnya ke mana.

Aliran bola kita sangat kreatif. Kreatif sekali dalam membuat penonton bingung. Umpannya ke mana, larinya ke mana. Sering kali salah oper. Seolah ada magnet terbalik di sepatu mereka.

Setiap kali mau mengoper ke kawan, bola justru meluncur dengan sopan, sungkem ke kaki lawan.

Baca Juga :  Resmi! Pemerintah Berlakukan WFH bagi ASN dan Swasta

Sementara kita sibuk salah paham dengan bola, Malaysia justru menyerang sekencang badai. Mereka menggempur pertahanan kita habis-habisan.

Barisan belakang kita bertahan habis-habisan. Mirip pertahanan hansip ronda malam yang sedang mengantuk berat.

Untung saja kita punya Maarten Paes di bawah mistar. Kalau bukan karena dia yang terbang ke sana-kemari menyelamatkan gawang, mungkin skornya sudah mirip angka togel. Dia pahlawannya kemarin. Yang lain? Entahlah, mungkin masih kecapean atau apa.

Bahkan di menit-menit akhir, Justin Hubner harus membuat penyelamatan heroik tepat di garis gawang. Demi mencegah kita menangis berjamaah di pojokan stadion. Di rumah. Atau di tempat nonton bareng.

Saya jadi bingung. Ini timnas yang sama atau bukan?

Performa kemarin berbeda bumi dan langit dengan performa gagah kita di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dulu.

Waktu itu, mainnya rapi. Alurnya jelas. Dan bikin dada kita membusung bangga.

Lah, tadi malam, di ajang FIFA ASEAN Cup ini, kok malah seperti sekumpulan orang baru kenal. Yang dipaksa main bareng di hari Minggu pagi demi menggugurkan kewajiban.

Gelandang jangkar kita dipaksa lari marathon tanpa tujuan yang jelas. Lini tengah kita lowong. Melompong seperti jalanan Jakarta saat ditinggal mudik lebaran.

Malaysia dengan leluasa berdansa di sana. Untung saja, penyerang Malaysia kemarin juga sedang ramah. Peluang emas di depan gawang berkali-kali mereka buang dengan ikhlas. Hilang semua aura elite benua Asia itu. Berganti menjadi aura kepanikan lokal khas sepak bola ASEAN.

Baca Juga :  Sukses Telkom Gelar Culture Festival 2025 Bertema Langkah Cepat Tumbuh Bersama

Beberapa hari lagi, tepatnya Kamis 1 Oktober 2026, kita sudah ditunggu oleh Bangladesh di stadion yang sama.

Harapan saya tidak muluk-muluk. Tolong, bermainlah seperti waktu kualifikasi piala dunia dulu. Tidak usah memikirkan taktik tiki-taka yang rumit kalau ujung-ujungnya malah tiki-tako.  Alias takut kena tekel lalu panik dan buang bola ke tribune penonton.

Tolong kembalikan spirit militan ala Kualifikasi Piala Dunia itu. Jangan bawa lagi gaya main yang penting selamat dan pasrah seperti semalam.

Kita ini  ingin melihat seni sepak bola yang indah. Bukan festival salah paham di atas rumput hijau. Sebab, kalau melawan Bangladesh nanti permainan kita masih seperti semalam, saya benar-benar khawatir.

Bukan khawatir kita akan kalah atau tidak juara. Tapi khawatir penonton di tribune tidak akan pulang ke rumah masing-masing.

Mereka mungkin akan langsung berbondong-bondong menuju puskesmas terdekat. Untuk memesan tabung oksigen. Akibat terlalu lama menahan napas. (*)

banner 336x280