DULU sempat hilang. Aman. Terang benderang. Warga Balikpapan sempat tersenyum lebar. Dikira PLN sudah tobat nasuha. Ternyata? Hanya istirahat sebentar.
Sekarang, pemadaman listrik bergilir kambuh lagi di Kota Minyak.
Kemarin giliran rumah ibu mertua saya. Lokasinya di Kampung Baru Tengah. Bayangkan. Sejak jam 2 siang, listrik sudah KO. Mati total. Gerah. Kipas angin mogok. AC jadi pajangan dinding yang tidak berguna. Listrik baru normal lagi jam 9 malam. Tujuh jam penuh penderitaan.
Di hari yang sama, apesnya menular. Rumah orang tua saya juga kena. Jam 6 sore pet! Mati lampu. Pas sekali. Pemadaman terjadi tepat saat azan berkumandang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Belum sempat muazin menyelesaikan kalimatnya, suara azan tiba-tiba hilang. Senyap. Detik itu juga, bumi langsung gelap gulita. Romantis sekali PLN ini. Mengajak warga bernostalgia zaman purba pakai lilin. Listrik di rumah orang tua baru menyala jam 10 malam.
Ini bukan yang pertama. Pernah juga. Waktu itu masyarakat sedang khusyuk melaksanakan solat magrib. Tiba-tiba gelap. Gelap gulita. Makmum di belakang sampai bingung mencari bayangan imam. Mungkin PLN ingin menguji keimanan dan tingkat kekhusyukan ibadah warga Balikpapan. Luar biasa mulia misinya.
Tahun ini Republik Indonesia sudah berusia 81 tahun. Sudah tua. Sudah merdeka delapan dekade lebih.
Kita sudah bicara tentang kecerdasan buatan. Sudah bahas mobil terbang. Tapi di Balikpapan? Urusan menyalakan bohlam lampu saja masih pakai sistem giliran. Seperti arisan ibu-ibu PKK.
Lengkap sudah penderitaan di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini. Paket komplit. Air bersih kadang tidak mengalir. Kulit sudah lengket, mau mandi airnya mogok. Buka jendela, kabut asap menyambut. Mau pergi menghibur diri, harus antre BBM di SPBU. Begitu pulang ke rumah, listrik padam bergilir.
Sempurna. Kurang apa lagi coba?
Mungkin kita harus mulai membiasakan diri. Menganggap mati lampu sebagai gaya hidup baru yang estetik.
Hidup tanpa air, tanpa listrik, tanpa bensin, di tengah kepungan asap.
Negara-negara lain sudah sibuk memikirkan cara mendarat di Mars. Kita di sini masih sibuk meraba-raba mencari korek api di dalam kegelapan.


















