Jaga Nilai Kebangsaan Jadi Harapan Bupati PPU Saat Hadiri Milad Seabad NU di IKN

Berita, Daerah44 Dilihat

Kacamatanegeri.com, PENAJAM– Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor menghadiri peringatan Milad ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, (Kaltim), Sabtu (31/1/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, jajaran pengurus NU se-Kaltim, Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak terkait lainnya.

Bupati PPU, Mudyat Noor menyampaikan bahwa satu abad perjalanan NU merupakan bukti nyata konsistensi organisasi ini dalam menjaga ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, merawat persatuan bangsa, serta menjadi penyejuk di tengah keberagaman Indonesia.

“NU telah membuktikan selama seratus tahun hadir sebagai penyangga moral bangsa. Di tengah pembangunan IKN yang berada di wilayah PPU, nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan kebangsaan yang dijaga NU sangat relevan untuk menjadi fondasi kehidupan masyarakat Nusantara ke depan,” kata Mudyat Noor usai kegiatan.

Ia menambahkan, keberadaan IKN di wilayah PPU bukan hanya membawa konsekuensi pembangunan fisik, tetapi juga menuntut kesiapan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat.

“Kami di PPU menyadari bahwa pembangunan IKN tidak cukup hanya dengan infrastruktur. Harus ada penguatan nilai, karakter, dan harmoni sosial. Di sinilah peran ulama, kiai, dan warga NU sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan tersebut,” tambahnya.

Pendiri NU Tidak Mewariskan Kekayaan Materi

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, dalam sambutannya menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan salah satu pilar utama bangsa yang memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan IKN sekaligus menjaga persatuan dan moderasi beragama di Kaltim.

“NU berdiri sejak tahun 1926 dan hingga kini tetap utuh, tidak terpecah belah, serta konsisten menjaga keutuhan bangsa. Ini adalah kekuatan besar yang patut kita banggakan bersama,” ujar Seno Aji.

Menurutnya, para pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari tidak mewariskan kekayaan materi, melainkan nilai-nilai luhur berupa keikhlasan, keberanian, kebijaksanaan, dan kecintaan terhadap tanah air. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan dalam menjawab tantangan pembangunan bangsa saat ini, termasuk pembangunan IKN.

Ulama Penopang Utama Pembangunan IKN 

Sementara Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Wilayah NU Kaltim yang telah memilih Nusantara sebagai lokasi peringatan satu abad NU. Menurutnya, kehadiran para ulama dan kiai menjadi penopang utama agar pembangunan IKN tidak sekadar menghasilkan bangunan fisik semata.

“Tanpa doa restu dan dukungan para ulama, kiai, dan tokoh agama, pembangunan ini hanya akan menjadi benda-benda mati. Karena itu, kami berharap Milad NU ini menjadi pengisi jiwa bagi Nusantara yang kelak menjadi ibu kota kita bersama,” ujar Basuki.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan NU memiliki keterkaitan erat dengan pilar pembangunan IKN, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pembangunan di IKN, lanjutnya, tidak dilakukan dengan merusak alam, tetapi memulihkan dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan.

“Kami tidak membabat alam, tetapi memulihkannya. Kawasan yang sebelumnya merupakan hutan tanaman produksi kini dikembalikan menjadi hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang lebih baik. Ini sejalan dengan semangat NU dalam menjaga alam,” ucapnya.

Selain aspek lingkungan, Basuki juga menekankan peran IKN sebagai laboratorium kerukunan umat beragama. Itu ditunjukkan di sekitar Masjid Negara yang sedang dibangun, akan hadir pula Basilika, Gereja, Kelenteng, dan Pura sebagai simbol toleransi dan persatuan bangsa.

“Itu artinya Pembangunan IKN tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga memiliki jiwa keagamaan, spiritual dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat,” ungkapnya. (Hms6/Loh)