Indeks Harga Konsumen di Balikpapan dan PPU Meningkat

Berita, Daerah68 Dilihat
banner 468x60

Kacamatanegeri.com, BALIKPAPAN– Tercatat dua wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami peningkatan per Juni 2026.

Tercatat perkembangan harga di kedua wilayah masih dalam level yang terjaga dan terkendali.

banner 336x280

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi melalui siaran pres, Kamis (2/7/2026) menyatakan, kondisi tersebut didukung kecukupan pasokan dan ketersediaan stok berbagai komoditas pangan strategis, serta konsistensi upaya pengendalian inflasi daerah melalui sinergi erat antar instansi yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), baik di Balikpapan maupun PPU.

“Meski mengalami kenaikan, laju inflasi di Balikpapan dan PPU masih terkendali dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional,” kata Robi.

Dikatakan, Robi, pengendalian inflasi juga diperkuat oleh berbagai langkah stabilisasi harga dan pasokan yang ditempuh, melalui pelaksanaan gerakan pangan murah, pasar murah, serta operasi pasar sepanjang periode Juni 2026.

“Turut menjaga keterjangkauan harga di tengah masih kuatnya permintaan masyarakat, khususnya terhadap komoditas pangan strategis, serta harga energi global yang masih tinggi,” ucapnya.

Keseluruhan Tingkat Perkembangan Jadi Sasaran Inflasi Nasional

Dijelaskan, pada Juni 2026, Balikpapan dan PPU tercatat mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,86% (mtm) dan 0,39% (mtm), disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi dan energi, sejalan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi dan dampak lanjutan penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik di tengah masih kuatnya permintaan.

Secara tahunan, IHK Balikpapan tercatat inflasi sebesar 2,80% (yoy), sementara PPU tercatat inflasi sebesar 2,96% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan nasional yang sebesar 3,34% (yoy), maupun inflasi gabungan 4 kota di Kaltim sebesar 3,20% (yoy).

Baca Juga :  Tunjang Sektor Pertanian, PPU Perlu SPBU Khusus

“Keseluruhan perkembangan tingkat inflasi di kedua wilayah tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026, yaitu sebesar 2,5%±1%,” jelasnya.

Robi kembali menjelaskan, inflasi yang terjadi di Balikpapan terutama bersumber dari Kelompok Transportasi dengan andil sebesar 0,68% (mtm).

Lebih lanjut, lima komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi adalah harga bensin, angkutan udara, bawang merah, jagung manis, dan beras.

Pada sisi lain, lanjut Robi, penyumbang deflasi terbesar di Balikpapan berkat kontribusi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil sebesar 0,18% (mtm).

Selanjutnya, lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam pada Juni 2026 adalah cabai rawit, semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat.

Kelompok Transportasi dengan andil sebesar 0,22% (mtm) juga jadi penyumbang inflasi di PPU

Adapun komoditas utama penyumbang inflasi pada Juni 2026 di PPU adalah bensin, bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan jagung manis.

Sementara itu, komoditas penyumbang deflasi terdalam di PPU  berasal daging ayam ras,  semangka, ikan tongkol, tomat, sawi hijau.

Ke depan, masih terdapat sejumlah risiko yang dapat mendorong meningkatnya tekanan inflasi, sehingga perlu dimitigasi dan diantisipasi dengan sejumlah langkah dan kebijakan yang konsisten, serta strategis.

Masuknya musim kemarau pada triwulan III 2026, berisiko mempengaruhi tingkat produksi komoditas pertanian.

Dorong Peningkatan Produksi Pangan Lokal

Untuk itu, Kantor Perwakilan BI Balikpapan bersama Pemerintah Daerah melalui TPID Kota Balikpapan, PPU dan Paser terus berupaya untuk memperkuat sinergi dan kebijakan untuk pengendalian inflasi dan harga pangan daerah, sebagai langkah antisipatif dan mitigasi.

Baca Juga :  DLH Susun Dokumen D3TLH Pengelolaan Lingkungan yang Berkelanjutan

Berbagai kebijakan dan program yang telah ditempuh sepanjang periode Juni 2026 meliputi perumusan langkah dan kebijakan strategis pengendalian inflasi daerah, melalui rapat koordinasi serta penjajakan Kerjasama Antar Daerah (KAD) dengan TPID Kabupaten Karo (TPID Sumatera Utara) untuk komoditas pangan strategis.

Juga mendorong peningkatan produksi pangan lokal melalui percepatan tanam komoditas hortikultura dan pangan pada Juni 2026, mempertimbangkan masih adanya frekuensi hujan, serta mendorong pemanfaatan lahan pekarangan melalui urban untuk mendorong ketahanan pangan rumah tangga.

Lebih lanjut, sejumlah program stabilisasi harga juga telah direalisasikan meliputi Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilaksanakan sebanyak 9 kali di Balikpapan, penyebaran benih tanaman dilaksanakan 5 kali di Balikpapan, pelaksanaan operasi pasar dan GPM serta Gerakan Tanam Cabai di PPU, disertai dengan penyerahan bibit cabai kepada kepada PKK se-Kabupaten PPU sepanjang bulan Juni 2026.

Ke depan, Bank Indonesia akan senantiasa bersinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID untuk mendorong implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) secara konsisten, terukur dan berkesinambungan, untuk menjaga tingkat inflasi daerah pada rentang sasaran inflasi nasional 2026, yaitu sebesar 2,5% ± 1%. Sejalan dengan itu, juga terus mendorong optimalisasi implementasi program dan kebijakan yang telah tertuang dalam roadmap pengendalian inflasi daerah tahun 2025-2027 untuk seluruh TPID di Balikpapan, PPU dan Paser. (loh)

 

 

banner 336x280