Kacamatanegeri.com, PENAJAM – Hasil tangkapan laut di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang berlimpah menyimpan potensi ekonomi raksasa yang belum tergarap optimal. Setiap tahunnya, nelayan di kabupaten berjuluk Benuo Taka ini menghasilkan tak kurang dari 120.000 ton ikan rucah, jenis ikan berukuran kecil atau limbah tangkapan yang kerap dianggap tak bernilai jual tinggi.
Selama ini, komoditas melimpah tersebut berakhir secara sederhana, dikeringkan menjadi ikan asin atau mentahnya dijual murah ke pengepul luar daerah untuk diolah menjadi tepung ikan. Padahal, jika potensi tersebut dikelola mandiri di tanah PPU, dampaknya tidak hanya pada nilai tambah hasil laut, tetapi juga kemandirian sektor perikanan budidaya lokal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto, menegaskan pentingnya perubahan pola pikir dalam memandang potensi perikanan dari hulu ke hilir. Menurutnya, keberadaan tepung ikan berprotein tinggi merupakan kunci utama untuk memicu hadirnya pabrik pakan lokal.
“Pakan ikan dapat diproduksi secara efisien dengan mencampurkan tepung ikan hasil olahan lokal bersama bahan pendukung seperti tepung jagung dan dedak,” katanya, Selasa (27/10/2026).
Namun, alih-alih bergantung penuh pada pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), strategi yang ditawarkan adalah mendorong keterlibatan aktif pihak ketiga, baik investor swasta maupun wadah koperasi.
“Kalau murni APBD, saya harapkan itu murni dari pihak ketiga,” tegas Andi Trasodiharto.
Pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi swasta dan koperasi untuk berinvestasi mendirikan fasilitas pengolahan, selama tetap mematuhi regulasi serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
Prinsip ramah lingkungan menjadi syarat mutlak, terutama dalam pengelolaan limbah hasil proses pengolahan. Pengolahan ikan rucah menjadi tepung ikan sebenarnya tergolong ringkas dimulai dari pengukusan, pemerasan untuk mengurangi kadar air, pengeringan melalui sistem conveyor dan oven, hingga proses penggilingan akhir menjadi tepung siap pakai.
Hadirnya industri pakan lokal diproyeksikan bakal menekan pakan impor atau luar daerah yang selama ini mahal. Dengan harga pakan dan bibit yang lebih terjangkau, efisiensi usaha pembudidaya akan meningkat tajam.
“Rantai hilirisasi ini menjadi pemicu lahirnya wirausaha baru di kalangan generasi muda PPU, yang tak lagi sekadar berburu lapangan kerja, melainkan mampu menciptakan peluang usaha mandiri di sektor perikanan,” tandas Andi. (Adv/d1)












