BI Balikpapan Ajak Puluhan Wartawan di Acara Bincang Media 2026

Ulas Penyaluran Kredit Capai Rp 41,51 Triliun, Strategi Jitu Perluas Transaksi Qris hingga Pengembangan Program Wakaf serta Event Menarik FENTURUN yang Diganjar Medali Terbuat dari Daur Ulang Uang Tidak Layak Edar

Berita, Daerah54 Dilihat
banner 468x60

Kacamatanegeri.com, BALIKPAPAN– Seabrek ulasan menarik tersaji dalam acara Bincang Media 2026 yang digagas Bank Indonesia (BI) Balikpapan di Banking Hall, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan bersama puluhan wartawan dari berbagai media, Rabu (22/7/2026).

Bincang santai ini dipimpin langsung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Wahyu Setyoko, Kepala Unit Implementasi Kebijakan SP dan Pengawasan SP PUR BI Balikpapan, Aidha Fitria Puspitasari dan Kepala Seksi Kehumasan, Dias Satria.

banner 336x280

Dalam ulasannya, Robi Ariadi mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dibayangi dinamika geopolitik, kinerja industri perbankan di wilayah kerja KPwBI Balikpapan justru menunjukkan daya tahan yang kuat.

Hal Itu ditopang pertumbuhan penyaluran kredit tetap berada pada level tinggi, kualitas pembiayaan terjaga, dan penghimpunan dana masyarakat terus meningkat.

“Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi di Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser masih bergerak positif,” ujarnya.

Menariknya, penyaluran kredit tercatat mencapai Rp41,51 triliun atau tumbuh 17,66 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Pertumbuhan kredit yang tetap tinggi menunjukkan optimisme pelaku usaha dan perbankan terhadap prospek ekonomi daerah masih terjaga serta menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi,” kata Robi.

Di sektor UMKM, Robi mengatakan nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp12,79 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.

Diulasan Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah kerja KPwBI Balikpapan dijelaskan Robi terus mengalami pertumbuhan sepanjang 2026.

“Hingga Mei 2026, tercatat volume transaksi secara akumulatif mencapai 39,28 juta transaksi atau meningkat 93,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy),” paparnya.

Nilai nominal transaksi tersebut sambung Robi juga naik menjadi Rp4,26 triliun, tumbuh 60,01 persen (yoy).

Ia menyebut, pada Mei 2026, transaksi QRIS tercatat sekitar 10 juta transaksi dengan nilai nominal sekitar Rp1,023 triliun.

Baca Juga :  Yuk! Kenalan dengan Sibuta Diskominfo PPU

“Peningkatan itu didorong oleh semakin luasnya jumlah merchant yang menerima pembayaran QRIS serta meningkatnya literasi masyarakat terhadap pembayaran digital,” ujarnya.

Ulasan menarik juga disampaikan guna memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Dengan terus mendorong pengembangan wakaf produktif sebagai salah satu penggerak ekonomi syariah.

Dimana saat ini, BI Balikpapan tengah mengembangkan tiga proyek percontohan (pilot project) yang diharapkan mampu memberi manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.

Tiga program tersebut meliputi pengembangan peternakan ayam petelur di Pondok Pesantren Al-Banjari Kilometer 19 Balikpapan dan Kabupaten Paser. Program lainnya adalah pembangunan Water Treatment Plant di Balikpapan.

“Pengembangan wakaf produktif merupakan bagian dari program nasional Bank Indonesia. Program tersebut telah dijalankan sejak 2018 untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah,” ujar Robi.

Tidak hanya itu, paparan memperkuat transformasi ekonomi dan keuangan digital melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, industri sistem pembayaran, pelaku usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan terus ditingkatkan. Usaha itu jadi komitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja KPwBI Balikpapan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Nontunai Nusantara Running (FENTURUN) 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Nontunai Nusantara (FENTURA) Series 2026.

Tidak tanggung-tanggung, bagi peserta FENTURUN yang finish sesuai batas waktu yang ditetapkan panitia akan diganjar medali yang terbuat dari daur ulang uang kertas tidak layak edar (UTLE).

Upaya ini guna terus mendorong inovasi dalam pemanfaatan limbah UTLE sebagai bagian dari kampanye keberlanjutan. Inovasi terbaru tersebut dibuat dari limbah racik uang kertas atau yang dikenal dengan istilah leruk.

“Medali dibuat dari hasil pengolahan limbah racik uang kertas yang sudah tidak layak edar. Ini merupakan bagian dari komitmen BI dalam mendukung konsep green economy dan pembangunan berkelanjutan,” kata Robi.

Menurutnya, medali tersebut diproduksi melalui proses khusus di Bandung dengan material utama berupa leruk yang telah diolah menjadi briket padat. Material itu kemudian dilapisi sehingga menghasilkan medali yang kokoh dan memiliki nilai estetika.

Baca Juga :  Kaka Slank Bakal Tampil di PPU, Meriahkan Peresmian Bengkel Konversi Motor Listrik

Pada tahap awal, BI menyiapkan sekitar 100 medali. Namun jumlah tersebut dapat ditingkatkan hingga ribuan keping, menyesuaikan dengan ketersediaan bahan baku limbah uang kertas.

“Persediaan bahan cukup memadai. Apabila diperlukan, produksi dapat ditingkatkan hingga sekitar 2.000 bahkan 5.000 medali sesuai kebutuhan kegiatan,” ujarnya.

Selain dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan medali, leruk juga memiliki nilai guna lain. Seperti yang digiatkan BI bekerja sama PT PLN (Persero) untuk memanfaatkan limbah tersebut sebagai bahan bakar alternatif melalui skema co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Daripada menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan, leruk kami salurkan sebagai bahan bakar alternatif di PLTU. Ini menjadi salah satu bentuk pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung efisiensi energi,” jelasnya.

Hingga Semester I, volume limbah racik uang kertas yang telah dimanfaatkan mencapai sekitar 28 ton. Seluruh bahan tersebut berasal dari uang rupiah asli yang telah dinyatakan tidak layak edar oleh BI. Uang itu rusak karena lusuh, robek, terbakar, atau tidak lagi memenuhi standar kualitas.

Robi menegaskan bahwa bahan baku yang digunakan bukan berasal dari uang palsu, melainkan uang rupiah asli yang telah melalui proses pemusnahan sesuai ketentuan.

“Inovasi ini bukan sekadar mendaur ulang limbah, tetapi juga memberikan nilai tambah dan edukasi kepada masyarakat bahwa setiap material dapat dimanfaatkan kembali secara bertanggung jawab. Kami berharap langkah ini dapat menginspirasi semakin banyak pihak untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan menjaga kelestarian lingkungan,” tutup Robi.

Ulasan demi ulasan yang disampaikan menjadikan kinerja perbankan yang tetap solid menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi di wilayah kerja KPwBI Balikpapan masih kuat, sekaligus memberikan optimisme terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur di tengah tantangan ekonomi global. (*dwn)

banner 336x280