Kacamatanegeri.com, PENAJAM – Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal agar mampu naik kelas hingga menembus pasar internasional.
Pemanfaatan teknologi digital kini menjadi pilar utama transformasi ekonomi kerakyatan, seperti yang dibuktikan secara gemilang oleh UMKM batik lokal, Bulau Sayang.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Diskukmperindag Kabupaten PPU, Marlina, mengapresiasi atas kemandirian dan kreativitas para pelaku usaha di PPU yang telah beradaptasi dengan era digital dalam memasarkan produk unggulan daerah. Seperti batik dari Bulau Sayang sudah internasional dan ternyata mampu.
”Beberapa pengusaha sudah bisa dikirim ke sana. Jadi, mudah-mudahan ke depan yang lainnya mampu juga. Seperti juga batik sebenarnya, ini skala internasional juga dia sudah mampu. Promosinya mereka dari digitalisasi ya, jadi mereka sudah mahir memanfaatkan teknologi,” ungkap Marlina, Kamis (22/10/2026).
Langkah progresif tersebut kembali diperlihatkan oleh UMKM Bulau Sayang. Mengusung identitas lokal yang kuat, Bulau Sayang menghadirkan inovasi kreatif berupa batik berpewarna alam yang memanfaatkan ekstrak kayu ulin, dipadukan dengan pengembangan busana siap pakai agar konsumen dapat langsung melihat pengaplikasian motif dalam pakaian modern.
Tidak hanya mengandalkan estetika visual, produk batik ini sarat akan muatan budaya lokal masyarakat Paser. Salah satu ciri khas yang ditonjolkan adalah penggunaan unsur tanduk rusa sambar pada motif batik, yang diangkat secara artistik tanpa menampilkan bentuk utuh satwa tersebut demi menghindari kesan monoton.
Pemilihan nama “Bulau Sayang” sendiri diambil dari kearifan lokal tradisi minyak pengasih masyarakat Paser yang kerap dijumpai dalam kegiatan kebudayaan seperti Festival Nondoi. Dari sisi penawaran produk, kain batik cap pewarna alam dibanderol dengan harga sekitar Rp800.000 per potong berukuran 2,2 meter.
Sementara itu, lini produk ready to wear ditawarkan pada kisaran harga Rp375.000 hingga Rp950.000, bergantung pada kerumitan model serta proses produksinya. Produk tertinggi senilai Rp950.000 merupakan karya batik tulis eksklusif berpewarna alam, yang membutuhkan waktu pengerjaan teliti selama satu bulan oleh tiga orang perajin melalui tahapan pencelupan, fiksasi, dan pembatikan berulang.
Dengan kapasitas produksi berkisar antara 30 hingga 50 potong per bulan yang dapat ditingkatkan hingga 200 potong demi memenuhi lonjakan permintaan produk Bulau Sayang kini tak hanya mendominasi pasar lokal PPU. Jaringan pemasarannya telah meluas hingga ke luar daerah seperti Bogor melalui kolaborasi dengan Gerai Nusantara, serta hadir di galeri rumah adat Rakan Tatau, rest area IKN, galeri dan workshop di Kelurahan Nenang RT 2, hingga galeri Dekranasda Kalimantan Timur di kawasan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan.
“Promosinya mereka dari digitalisasi ya, jadi semua sudah mahir memanfaatkan teknologi,” ungkap Marlina. (Adv)














