Kacamatanegeri.com, PPU– Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan sukses penyerahan bantuan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten PPU dan Paser, Kamis (8/10/2026).
Penyerahan juga dirangkai kick off implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui rencana penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah (PM), maupun Operasi Pasar (OP) sepanjang triwulan IV-2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi melalui siaran pers kepada media, Jumat (9/10/2026) mengatakan, implementasi program GPIPS tersebut diharapkan mendukung terkendalinya tingkat harga pangan, setelah beberapa periode sebelumnya mencatatkan inflasi pada level yang tinggi, sehingga inflasi sepanjang 2026 (Januari-September) mencapai 4,11% (ytd).
Dijelaskan, penyelenggaraan program stabilisasi harga pangan melalui GPM/PM/OP di seluruh Wilayah Kerja KPwBI Balikpapan, khususnya daerah kota/kabupaten yang dihitung Indeks Harga Konsumen (IHK), yaitu Balikpapan dan PPU terus dioptimalkan, sehingga masyarakat dapat memperoleh komoditas pangan strategis dengan harga yang lebih terjangkau.
Sejalan dengan itu, untuk meningkatkan ketersediaan pasokan, sehingga tekanan inflasi pangan dapat melandai. Langkah ini juga disinergikan dengan penguatan produksi pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan daerah, sehingga sasaran inflasi 2026 di kedua wilayah berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5%±1%.
Dalam realisasi stabilisasi harga, terus diupayakan perluasan cakupan wilayah dan komoditas oleh masing-masing TPID, dengan tetap memfokuskan pada komoditas yang harganya telah berada di atas harga eceran tertinggi (HET), atau harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen (ditetapkan Bapanas), serta komoditas strategis lainnya yang ditetapkan oleh TPID.
Memasuki triwulan IV 2026, di Balikpapan telah direncanakan pelaksanaan program stabilisasi harga pangan sejumlah 10 kali, sementara di PPU akan dilaksanakan sebanyak 13 kali hingga akhir tahun 2026.
Penyelenggaraan program tersebut akan terus diperluas secara masif di hampir seluruh kecamatan di Balikpapan dan PPU, sejalan dengan penguatan dukungan dan sinergi antara TPID dengan distributor utama, Bulog, dan Pertamina Patra Niaga.
Dalam rangka pengendalian inflasi daerah, juga telah dilaksanakan monitoring dan evaluasi tindak lanjut Tani Camp 2026 di Balikpapan, PPU, dan Paser. Melalui program tersebut, telah difasilitasi penguatan kapasitas budidaya usaha pertanian dan peternakan, serta mendorong pemanfaatan pekarangan rumah dan sekolah untuk urban farming, serta penguatan teknik budidaya pertanian melalui pemanfaatan bahan organik.
Selanjutnya dalam rangkaian pelaksanaan monitoring, aktivasi urban farming di Balikpapan dan PPU dengan komoditas cabai, tomat, dan terong telah menunjukkan capaian yang positif. Hasil budidaya yang dikelola oleh tim penggerak PKK, perwakilan sekolah terpilih, serta kelompok tani terpilih peserta Tani Camp 2026 menunjukkan capaian yang menggembirakan. Tanaman hortikultura tumbuh dengan baik, bahkan beberapa diantaranya telah memasuki fase berbuah. Keberhasilan ini tidak terlepas oleh sinergi TPID di masing-masing wilayah, yang juga didukung oleh KPwBI Balikpapan melalui fasilitasi pendampingan tenaga ahli, penyelenggaraan workshop, serta dukungan fasilitasi perlengkapan budidaya pertanian dan peternakan.
Rangkaian program Tani Camp merupakan upaya nyata untuk memitigasi dampak negatif el nino terhadap produksi pangan, serta menjadi strategi untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga, sehingga mendukung pengendalian inflasi daerah 2026.
Nantinya, hasil monitoring Tani Camp di Paser untuk usaha peternakan ayam petelur, juga telah menunjukkan capaian yang positif, dengan mulai diterapkannya penggunaan pakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam petelur.
Langkah ini telah berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi usaha peternakan, di tengah tantangan ketersediaan bahan baku yang terbatas (jagung). Untuk itu, OPD terkait terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mendukung akses pasokan jagung yang lebih memadai, termasuk melalui pemanfaatan jagung SPHP pada panen mendatang. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan usaha peternakan dan pengendalian inflasi pangan. (*/d1)














